Penampilan gemilang Matheus Cunha belakangan ini mulai mencuri perhatian dunia sepak bola, termasuk dari salah satu sosok paling keras dan tajam dalam mengomentari performa pemain: Roy Keane. Ya, legenda Manchester United itu dikenal jarang memuji pemain, apalagi dengan gaya bicara yang terkenal blak-blakan dan kritis. Namun kali ini, Cunha berhasil membuat Keane angkat topi.
Cunha, striker asal Brasil yang kini membela Wolverhampton Wanderers di Premier League, menunjukkan peningkatan performa yang luar biasa sejak bergabung secara permanen dari Atletico Madrid. Dalam beberapa pertandingan terakhir, ia tampil garang di lini depan, tak hanya mencetak gol, tetapi juga aktif dalam membangun serangan dan mengacaukan pertahanan lawan dengan pergerakannya yang lincah dan tidak terduga.
Statistik Bicara Banyak
Musim lalu, Cunha mencatatkan kontribusi langsung terhadap lebih dari 15 gol Wolves di semua kompetisi. Ia menjadi salah satu pemain paling produktif dalam skuad asuhan Gary O’Neil. Dengan kecepatan, teknik olah bola yang tinggi, serta visi bermain yang matang, Cunha perlahan menjelma menjadi striker yang komplet. Tak heran, Roy Keane, yang terkenal pelit pujian, menyebut Cunha sebagai “salah satu penyerang paling menyebalkan bagi bek lawan.”
“Saya suka semangatnya, saya suka gerakannya,” ujar Keane dalam salah satu sesi analisis di televisi. “Dia bukan hanya pemain yang mengandalkan kecepatan atau fisik, tapi dia tahu kapan harus menekan, kapan harus mundur, dan itu membuatnya sangat sulit diprediksi.”
Bukan Sekadar Penyerang
Keane juga menyoroti etos kerja Cunha yang sangat tinggi. Ia tidak hanya menunggu bola di depan, tetapi juga turun membantu lini tengah bahkan ikut bertahan saat dibutuhkan. Ini adalah kualitas langka yang sangat dihargai dalam sistem sepak bola modern, terutama oleh pelatih yang menuntut pemain multifungsi dan bermental juang tinggi.
“Dia bekerja keras, tidak egois, dan selalu terlihat lapar. Itu yang saya suka,” tambah Keane.
Perjalanan Karier yang Tak Mudah
Sebelum bersinar di Inggris, perjalanan Cunha tidak selalu mulus. Ia sempat bermain di Swiss bersama FC Sion, kemudian pindah ke RB Leipzig dan Hertha Berlin di Bundesliga, sebelum akhirnya bergabung ke Atletico Madrid. Di Spanyol, ia kesulitan mendapat menit bermain karena persaingan ketat dan sistem Diego Simeone yang cenderung defensif. Tapi sejak pindah ke Wolves, ia menemukan kembali kepercayaan diri dan kebebasan bermain yang selama ini dicari.
Potensi Lebih Besar ke Depan
Dengan usianya yang masih 25 tahun, Cunha dinilai memiliki ruang besar untuk berkembang. Banyak yang memprediksi ia bisa menjadi salah satu penyerang top Premier League jika konsistensinya terjaga. Bahkan, muncul spekulasi bahwa klub-klub besar seperti Arsenal dan Tottenham mulai memantau progresnya.
Pujian dari Roy Keane tentu bukan hal sepele. Itu menjadi pengakuan tersendiri atas kualitas Cunha saat ini. Jika ia mampu mempertahankan performanya dan terus berkembang, bukan tidak mungkin kita akan melihatnya bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa dalam waktu dekat.
Penutup
Matheus Cunha mungkin belum setenar Haaland atau Mbappe, tapi performanya yang impresif dan kerja kerasnya di lapangan sudah cukup untuk membuat Roy Keane—salah satu kritikus paling tajam—berdecak kagum. Dan jika Keane saja bisa kagum, maka dunia harus mulai memperhatikan: Cunha bukan pemain biasa.
Baca Juga: Noni Madueke Tinggalkan Final Piala Dunia Antarklub 2025 Demi Gabung Arsenal